Selasa, 20 Mei 2014 adalah hari yang nanti oleh semua kelas 3 SMK/ SMA, begitu pun juga dengan ku tak sabar untuk melihat hasil yang ku perjuangkan selama 3 tahun. kita semua mempersiapkan untuk menanti hasil yang di perjuangkan, banyak orang mempersiapkan baju untuk di pakai kelulusan seperti pakain putih abu-abu, yang tidak berguna lagi meraka mencoret-corek dan menggambar di pakaian putih abu-abu sebagai tanda kelulusan mereka begitu pun dengan saya.
Namanya Gojeng, Taman purbakala Batu Pake Gojeng.Kabupaten Sinjai selain
dikelilingi oleh hutan bakau pada daerah pesisir, air tejun dan banyak
lagi hal menarik lainnya, juga terdapat banyak bukti sejarah yang masih
dirawat hingga saat ini. Salah satunya adalah Taman Purbakala Batu Pake
Gojeng.
Terus terang, ini adalah salah satu tempat favoriteku saat berkunjung ke
Sinjai. Setiap kali aku pulang ke tanah kelahiranku di Sinjai, sudah
menjadi kewajiban untuk datang ke tempat itu meskipun hanya beberapa
saat lamanya.Aku sangat menyukai hawa dingin dan hembusan angin sambil
menikmati pemandangan Kabupaten Sinjai dan deretan Pulau Sembilan dari
kejauhan.
Ketinggian
Taman Purbakala Batu Pake Gojeng ini sendiri bekisar 59 - 96 Meter dari
pemukaan laut. Untuk sampai ke tempat ini dari kota Sinjai bekisar 2
Kilometer jauhnya, sementara dari tempatku di Kecamatan Sinjai Timur,
memerlukan waktu sekitar 30 Menit, mengingat jalan yang dilewati kurang
bagus.
Kata
Bapak, Batu Pake gojeng itu dulu adalah tempat para tentara jepang
mengintai yang kemudia mereka jadikan markas untuk memudahkan mereka
mengintai musuh, entah musuh yang dimaksud penduduk Sinjai sendiri atau
lainnya, entahlah Bapak bilang itu pada masa Raja - Raja sebelum Aku
lahir.
Di
Taman Purbakala yang aku suka adalah hamparan rumputnya yang menghijau
serta taman - taman yang tertata dengan Rapih. Disini juga terdapat
sebuah Rumah Adat, tepat berada di sudut taman dengan sebuah Batu dengan
bukti peresmian pada bagian depannya.
Pada
Taman - taman terdapat beberapa jenis burung, ayunan yang sangat cocok
untuk bersantai serta beberapa Gazebo yang bisa menjadi tempat berteduh.
Gazebo tidak hanya berada di bagian bawah taman, akan tetapi, Gazenbo
bisa kita Jumpai di bagian Atas Taman.
Untuk mencapai Puncak Taman Purbakala Batu Pake Gojeng, disana terdapat tangga yang menurut informasi dari website Kabupaten Sinjai,
berkisar 120 buah anak tangga (aku belum pernah hitung sih, naik aja
capek... harus nambah hitung lagi, owww gag sanggup....hihi).
Pada
Puncak Taman Purbakala Batu Pake Gojeng ini terdapat banyak batu batu
pahat yang dipercaya sebagai kuburan batu zaman dahulu. Selain Batu -
batu yang dipahat, juga terdapat banyaj pepehonan yang sudah berumur
tua, lubang - lubang kecil dan sedang berada di tengah - tengah batu
serta sebuah batu besar yang bertengger tepat dipinggir tanpa penyangga.
Jangan
heran jika sampai di puncak dan dalam keadaan ngos - ngosan akan
menemukan banyak muda mudi yang menjadikan tempat Wisata yang
dibanggakan Kabupaten Sinjai ini sedang berduaan yang hanya datang untuk
sekedar pacaran atau ber kelompok sedang berdiskusi tentang banyak hal.
Selain sebagai tempat wisata yang asik, Taman Purbakala ini juga banyak
digunakan oleh komunitas dan organisasi untuk bertukar pendapat,
diskusi dan lain sebagainya, terlebih setelah di adakannya Wifi Gratis
di wilayah Taman Purbakala Batu Pake Gojeng.
Kami
menghabiskan waktu hingga sore hari disana sambil menunggu teman dari
Komunitas Blogger Sinjai yakni Arhy dan Dedy. Kami bertemu di puncak,
bercerita tentang rencana ke Pulau Sembilan, Pantai Bira dan kemudian
kami lanjutkan dengan berfoto bersama (Agenda Wajib).
Oia,
selain kunjungan Pada hari ini, aku sudah beberapa Kali membawa teman -
temandari Luar Sinjai bahkan Luar Indonesia untuk mengunjungi Taman
Purbakala Batu Pake Gojeng. Berikut foto - fotonya.
Tahukah anda apa Manfaat Jalan Kaki? yah jalan kaki itu sangat bermanfaat bagi kesehatan. Untuk lebih jelas, berikut Manfaat Jalan Kaki bagi kesehatan.
Manfaat jalan kaki 1. Menghindarkan dari diabetes tipe 2. Program pencegahan diabetes memperlihatkan, jalan kaki 150 menit per minggu akan mengurangi 7 persen berat badan Anda atau sekitar 7 kg. Lebih penting lagi mampu manfaat jalan kaki bisa menurunkan penyakit diabetes hingga 58 persen. 2. Memperkuat jantung pria. Dalam sebuah penelitian, tingkat kematian pada pria pensiun yang berjalan kaki kurang dari 1 mil per hari dua kali lebih banyak dibanding mereka yang menempuh jarak 2 mil per hari. 3. Memperkuat jantung wanita. Studi yang dilakukan pada 72.488 wanita memperlihatkan, manfaat jalan kaki 3 jam per minggu yaitu dapat mengurangi risiko terkena serangan jantung atau jenis penyakit jantung lain. 4. Baik untuk otak. Dalam studi tentang jalan kaki ditemukan, wanita yang berjalan 1,5 jam per minggu memiliki fungsi kerja organ kepala yang lebih baik daripada mereka yang hanya berjalan 40 menit per minggu. 5. Baik untuk tulang. Riset memperlihatkan bahwa wanita menopause yang berjalan kurang lebih 1 mil per hari memiliki kepadatan tulang lebih baik daripada mereka yang sedikit berjalan kaki, dan manfaat jalan kaki efektif untuk menurunkan kehilangan massa tulang di bagian kaki. 6. Mengurangi gejala depresi. Jalan kaki selama 30 menit, 3-5 kali per minggu selama 12 minggu, mengurangi gejala depresi. 7. Mengurangi risiko kanker payudara dan kolon. Wanita yang berjalan secara rutin 65 menit hinga 135 menit per minggu bisa mengurangi risiko terkena kanker payudara dan kolon hingga 18 persen dibandingkan wanita yang tidak aktif. Studi memperlihatkan, olahraga dapat mencegah kanker kolon. Untuk orang yang telah terkena kedua kanker, olahraga mampu meningkatkan kualitas hidup dan mengurangi angka kematian. 8. Meningkatkan kebugaran. Jalan kaki 3 kali per minggu selama 30 menit dapat meningkatkan kebugaran dan sistem pernapasan secara signifikan. 9. Jalan kaki singkat pun meningkatkan kebugaran. Studi yang dilakukan pada pejalan kaki wanita memperlihatkan, manfaat jalan kaki singkat sekitar 10 menit per hari pun punya efek buat kesehatan. Hasilnya akan terlihat pada peningkatan kebugaran dan pengurangan lemak di tubuh, kalau dilakukan hingga 30 menit per hari. 10. Meningkatkan fungsi fisik. Riset memperlihatkan, manfaat
sebuah legenda beredar dari kaki Gunung Karampuang, Kabupaten Sinjai, Sulswesi Selatan. Legenda tentang seorang manusia sakti bernama To Manurung yang turun dari langit dan memberikan sejumlah pesan dan pengetahuan baru bagi warga desa: tentang tatanan hidup sederhana dan pentingnya kebersamaan. Pengetahuan itu hingga kini masih ditaati para pengikutnya yang hidup mengucilkan diri di sebuah desa adat yang disebut Karampuang.
Desa yang terletak sekitar 31 kilometer dari pusat Kota Sinjai ini, memang mencerminkan suatu desa tradisional yang ketat memegang teguh amanah para leluhur. Konon, asal kata dari Karampuang tersebut diambil dari kata Karaeng dan Puang. Penamaan ini akibat dijadikannya lokasi itu sebagai pertemuan antara Kerajaan Gowa (Karaeng) dan Kerajaan Bone (Puang). Dalam legenda Karampuang juga dikisahkan bahwa asal mula adanya daratan di Sinjai berawal dari Karampuang. Dahulu daerah ini adalah wilayah lautan sehingga yang muncul ke permukaan adalah beberapa daerah saja, termasuk Karampuang. Yang muncul itu dinamakan cimbolo, yakni daratan yang timbul seperti tempurung di atas permukaan air. Di puncak cimbolo muncul To Manurung yang akhirnya digelar Manurung Karampulue (seseorang yang karena kehadirannya menjadikan bulu kuduk berdiri).
Dengan lokasi terpencil di tengah bukit berbatu, Karampuang menjadi daerah yang jarang dijamah pengaruh luar. Tak heran, kondisi seperti ini juga menyebabkan warga tak pernah berniat mengubah tatanan yang sudah ada dengan arus perkembangan begitu cepat di luar desa mereka. Tradisi lama masih mereka pegang. Tatanan baru tak mengubah tatanan lama dan kehidupan yang penuh kesederhanaan tak pernah mereka tinggalkan. Karampuang adalah sebuah desa adat yang dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip manajemen sebuah kerajaan. Ada raja, perdana menteri, dan beberapa menteri. Karampuang dipimpin seorang Pamatoa yang berfungsi sebagai raja, Panggela sebagai Perdana Menteri, Sangro atau dukun sebagai menteri kesehatan dan kesejahteraan. Kemudian ada Guru yang bertindak sebagai menteri pendidikan dan keagamaan.
Kendati begitu, di kerajaan ini tak akan ditemukan istana yang megah dan gemerlap layaknya kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi maupun di daerah lainnya. Istana hanya berupa dua rumah panggung beratap rumbia. Satu di antaranya menjadi tempat tingal Pamatoa dan yang lainnya menjadi kediaman Panggela dengan beberapa kamar yang menjadi hak Sangro dan Guru serta Ana Malolo yang bertugas sebagai Pabicara atau juru bicara alias menteri penerangan. Kesederhanaan juga tampak dari penampilan para raja dan pejabatnya yang hampir tak bisa dibedakan dengan warga biasa. Bagi mereka, fungsi lebih penting ketimbang sekedar simbol-simbol yang menunjukkan hirarki sosial. Sederhana, memang.
Kegiatan menonjol di komunitas Karampuang adalah pembacaan ayat-ayat suci Alquran yang digelar setiap malam Jumat. Biasanya menjelang malam, ayat-ayat Alquran akan mengalun dari sebuah rumah adat yang ditinggali oleh Panggela Mangga. Bagi warga Karampuang, Jumat adalah hari istimewa. Apalagi, ketika jagung telah dipetik dan sawah mulai dibasahi. Ini pertanda bagi mereka untuk memulai menanam padi. Saat seperti itulah, sebagai umat muslim mereka mempunyai kewajiban berkumpul untuk membacakan doa dan puji-pujian kepada Allah SWT pada malam menjelang mereka mulai menggarap sawah.
Malam Barjanji. Demikian mereka menyebut acara tersebut. Acara itu dipimpin Guru dan dihadiri hampir seluruh pejabat dan warga Karampuang. Pamatoa yang dianggap orang suci dibebaskan dari urusan-urusan kemasyarakatan. Untuk urusan seperti ini, Guru dan Ana Malolo-lah yang banyak berperan. Pamatoa dan Panggela lebih mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan pelanggaran adat.
Memang ada satu pejabat yang juga tak terlihat di forum ini yakni Sangro yang bertugas sebagai menteri kesehatan dan kesejahteran. Namun, Sangro bukannya tak ada. Tapi, malam ini justru Sangro harus bertugas mempersiapkan masakan bagi para tamu dan tugas itu dilakukannya di dapur sebagai menteri kesejahteraan. Sangro memang kerap dijabat oleh seorang wanita.
Barjanji sebenarnya mengandung makna sebagai sebuah permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar yang akan dilakukan esok hari mendapatkan hasil baik. Barjanji telah menjadi tradisi bagi warga Karampuang untuk memulai setiap tahap kegiatan yang dilakukan secara kolektif. Namun, Malam Barjanji bukan sekadar malam untuk berdoa. Malam Barjanji juga menjadi malam untuk berkumpul makan besar sambil membicarakan berbagai masalah mereka, termasuk arisan adat untuk menentukan tanah yang akan digarap esok hari. Sebagai komunitas kecil dengan sumberdaya yang terbatas, satu petak sawah di Karampuang kerap dikerjakan seluruh warga desa laki-laki dengan sistem arisan bergilir. Kali ini dua warga mendapatkan kesempatan pertama untuk digarap sawahnya.
Sesuai kesepakatan, pada pagi harinya seluruh warga bersama-sama pergi ke sawah. Namun, sawah di Karampuang terletak di lembah di antara bukit berbatu. Kondisi ini membuat warga sulit membuka lahan persawahaan. Sebidang tanah kecil harus mereka dapatkan dengan kerja keras bertahun-tahun hanya untuk sekadar menyisihkan kerikil-kerikil batu yang berserakan.
Dipimpin Panggela, seluruh kaum lelaki di sana bekerja seharian untuk mengolah sawah. Semua tenaga dikerahkan, termasuk sapi dan kerbau yang menjadi milik adat. Di saat para kaum laki tengah bersawah, kaum Hawa di sana hanya berdiam di rumah. Seusai mempersiapkan bekal bagi kaum Adam di sawah, para perempuan meluangkan waktu dengan bersantai di rumah. Berbeda dengan kediaman Panggela, di rumah ini, dalam bimbingan Sangro para wanita kembali mempersiapkan berbagai makananan untuk acara yang diberi nama Petik Jagung pada malam harinya.
Ketika matahari mulai terbenam, para lelaki pulang ke rumah. Setelah melepas lelah, mereka kembali berkumpul di kediaman Panggela untuk melaksanakan acara Petik Jagung. Acara ini sebenarnya bukan ritual yang sarat dengan unsur religius. Namun, acara ini sekadar hiburan bagi mereka yang seharian bekerja keras di sawah. Acara ini juga sekaligus untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan. Uniknya, wujud syukur ini dilakukan dengan cara bernyanyi sambil membelai-belai jagung. Acara ini juga menjadi forum sosial dalam membagi hasil jagung kepada warga dan pejabat kerajaan
Cowok: aduh Bebz, nanti aja telponnya, disini sinyal aku PUTUS PUTUS ,,, !
Cewek : APPAAA!!! ? tega kamu ya,,, aku nelpon kamu dari paris ke indonesia kamu malah minta putus !!! ! SALAH AKU APA COBA !!
Cowok: tuh kan, kamu salah dengar,,, DISINI SINYALNYA JELEK!!!
Cewek: hikz-hikz-hikz... tega kamu, kamu putusin aku karena, kamu bilang salah aku karena aku jelek ???
Cowok: Disini Aku nggak dapat sinyal ! soalnya Operator aku Ax*s lagi gangguan, aku sayang kamu bebz !
Cewek: apaa!! kamu bilang? kamu dpat gebetan baru, yang namanya ANIS ? dan kamu lebih sayang dia? tega kamu ! tega!
Cowok: ya alloh, Mati gue, Bukan sayang, Aku minta kamu telpon aku sebentar lagi, Aku naik ke menara dulu, ya,?
Cewek: apa? oke, aku akan naik menara eifel, dan aku akan lompat, dan kamu nggak akan ngeliat aku untuk selamanya ! dasar BUAYA! HABIS MANIS SEMPAK DIBUANG !!!